Suatu malam aku telah sampai di
namamu
Kutapaki tiap suku kata
Menempuh titik indah di awal namamu
Melewati tiap lekukan huruf di bibirmu
Berpadu lembut mengukir bayangmu
Suatu malam aku telah sampai di
bayangmu
Bisa kulihat biasmu di tiap cahaya yang
keluar dari mataku
Kulihat kita saling berlarian
Bermain bayang-bayang
"Sudah lama bayangan kita menari
bersama. Sering kupaandangi cakrawala
dibalik bayang dirimu. Butuh waktu
lebih dari sekadar berhadapan dengan
dirimu yang nyata."
Telah lama kutunggu waktu-waktu lalu
Hingga aku telah sampai di wajahmu
Jari-jariku meruntuh
Kusentil rindu-rindu lalu,
Mulutku berontak
Melumat habis sisa rindu di bibirmu,
Jemu aku berlalu
Hingga aku telah sampai di diriku
Memimpikan diriku yang masih
terombang-ambing di air matamu
Aku tersesat
Telah keliru
Surabaya, 10 Desember 2013
Selasa, 10 Desember 2013
Jumat, 06 Desember 2013
BUAT KITA
Tak sulitlah bila ingin mendapati
simpati dari alam
Ceritakan saja tentangmu
Lalu awan menitihkan air matanya
membasahi kita
4 Desember 2013
simpati dari alam
Ceritakan saja tentangmu
Lalu awan menitihkan air matanya
membasahi kita
4 Desember 2013
Rabu, 04 Desember 2013
TERLEPAS DARI APA ITU!
Sungguh sayang, masih menyembul
kata-kata yang tidak jarang pula bukan
keluar dari mulutmu. Satu atau bahkan
berkali kata yang terucap hanya
mengenai ilmu kebatinan.
“terima atau tidak, ini bukanlah
sekadar tentang kata menyerupai isi
hati. Sedikit saja, aku telah berguru
ilmu batin sedari aku adalah mimpi”
Seperti sediakala ketika aku
dikehendaki menyerukan cinta
dihadapanmu purnama, sudah kudapati
diriku diarak keliling dunia kata
kurangi gairah haus akan puisi yang
rasanya hanya diketahui pemilik dan
puisi sendiri
lalu harus memakan deskripsi yang
diterangkan oleh ahli raut muka
“aku harus memaknai lebih dari
dalamnya sakit ternyata, tak cukup
kalau hanya dia yang melangkah penuh
suka tanpa kenal duka sebagai
pasangan darinya”
Terlepas dari apa itu sudah terlanjur
kamu benar
Langganan:
Komentar (Atom)