Dunia
ini sudah renta buk!
Dunia
sempat mengajak aku mengendap-endap dalam gemerlap siang bahkan malam. Ketika
aku sampai di dalam lubang semut ia bicara padaku. “nak, aku nitip kado buat
ibumu” (beringsut menjauh). Mataku belum rabun, masih jelas tulisan yang menyerupai
cekeremes alias tidak beraturan tersebut terbcaa rapi olehku. “KADO ULANG TAHUNMU”. Sontak semua
pekerja kupaksa memainkan belahan otak bagian manapun dalam tengkorakku. “Hai
DUNIA” lantang suaraku menyusul lancang. “begitu indah bila kau kusebut GOBLOK”. Saking
kerasnya suaraku, setiap bagian dari suaraku menelusup satu-satu menabuh
gendang telinga ibukku. “yus, opo maksudmu le??”. Kujawab atau tidak??. Aku
sadar, tapi jelas terasa bahwasannya dunia lebih berha menguasai diriku kala
itu. Ragaku dipakai semena-mena. Tanganku bergerak sendirinya menyerahkan kado,
mulut menyebut pemberi.
Sore
mengudara, melambai penuh siasat. Selesai sudah panggilan surga kutemui yang
kala itu bertepatan dengan indah bermekaran sinar bintang. Aku pulang.
Kini
aku sudah berada di depan daun pintu warna kuning gelap bagian samping rumah. Erangan
apa ini??. Kunikmati sebentar dengan mengernyitkan dahi, kulit dahi mengkerut
bak kuperas sampai keringat dingin menetes pelan membasahi saluran nafas hingga
sedu sesak dalam dada. Berangsur mulai tak beraturan intensitas denyut
jantungku. Berkecamuk segala bentuk buah fikiran negatif meracuni setiap hal
dalam tubuhku.
Sungguh
kado yang mengesankan bagiku meskipun pada dasarnya tidak diperuntukkan padaku.
Begitupun terjadi pada setiap tetangga yang berdatangan melihat kado penuh luka
didalamnya.
Sudahlah
buk, ini memang sudah waktunya. Aku tahu pasti terlalu sia-sia bila harus
menyeka air matamu sekarang, karena masih banyak air mata-air mata lain dari
lensa mata dengan ketidak tegaan. Memang dunia sudah renta.