Pergantian bulan dan siang selalu menyisakan
tempat bagi senja dan fajar sebagai tanda
kemenangan. Seelok umpama langkahmu yang
ditelan ketiadaan. Dirimu yang telah dilesapkan
hilang. Tatapan kuat yang sering beradu
selalu berbekas di dinding-dinding malam.
Aku tidur,
selalu saja ada bayang-bayang yang
tertinggal. Di mataku, itu sebuah cahaya tanpa
ruang. Sorotnya tajam, binarnya hangat tanpa
sasaran. Desingan peluru yang bingung atau
mata pisau yang tidak tahu harus membelah.
Aku sendiri,
selalu saja ada tawamu yang habis ditelan
kelokan. Tumbuh bersama semai rindu pada
batas-batas waktu, menunggu.
"kepada apa aku harus merasa kehilangan?
seperti hadirmu di jalan"
10 Agustus 2014
Minggu, 31 Agustus 2014
Kamis, 28 Agustus 2014
Sebelum di Kereta
Kita duduk di sini setenang keabadian.
Bercengkrama dengan deru meninggalkan kota tua.
Dari besi tampak rel bersilang di sana
menderit damai
menyeret sunyi
nestapa dunia
Karena kami adalah waktu,
melihat kereta berlalu itu sudah.
"perlintasan kami kekal"
Je, 29 Agustus 2014
Bercengkrama dengan deru meninggalkan kota tua.
Dari besi tampak rel bersilang di sana
menderit damai
menyeret sunyi
nestapa dunia
Karena kami adalah waktu,
melihat kereta berlalu itu sudah.
"perlintasan kami kekal"
Je, 29 Agustus 2014
Langganan:
Komentar (Atom)
