Rabu, 24 September 2014

Ngomong Sendiri

Sadar,
Waktu tak bisa ingkar
mengoyak siang dan malam agar bangun tepat waktu
siang yang berkepribadian pekerja keras
sedang malam yang mengabdikan bagi yang
tubugnya pegal-pegal

Beginilah kombinasi ajaib
Hari-hari yang tak pernah sepi pengunjung
Mati satu, yang tiga baru saja procot
satu hari libur, tiga hari bakal ngaplo

sampai suatu malam aku ingat
juga malam hari yang riuh seperti ini
berjalan pada trotoar yang sepi
apalagi mataku tidak bening lagi
membaca raut mukaku, mataku sudah rabun
bahuku tak sekuat herkules,
tapi sengaja kuberi beban lagi

Bagaimana tidak?
lalu aku harus makan apa?
Sudahlah, waktuku pulang
kepalaku sudah nyut-nyutan

25 September 2014

Rabu, 10 September 2014

Menyeru Malam


Jalan-jalan telah bersinar, berbiaskan bintang
di sorot lampu berjajar-jajar.
Semakin malam maka mataku terasingkan
deburan mendayu
kecipaknya merindu,
adalah sorot matamu di senjakala
menyingsing di celah berawan
memerah pada dinding tak berbatas luas

Danau,
Mengharu biru, mengadu

10 September 2014

Jumat, 05 September 2014

Lanskap Waktu

Kami wujudnya waktu, berdiskusi cara
menunggu, agar tidak tersesat di percabangan
jalan di sana. Melaju di antara sekujur lelah,
membelai pelipis yang licin tipis agar
terpeleset di bahtera. Karena matamu
kupandang tak berhulu.

Seolah, aku sudah berdetik. Telah tentukan
siang, melambai malam dan berkokok jantan
menembus fajar. Pekikku supaya sambung ke
halaman depan.

Aku tak bisa ingkar terhadap kenangan,
supaya kekal, supaya berhenti di keabadian.