selalu saja ada puisi yang memiliki arti, di sini.
bermalam berhari-hari dengan api unggun,
dengan ranting-ranting yang gemeretak terbakar,
dan kunang-kunang sepi, ke dalam separuh bulan
ia menyelinap.
Bagaimana pun, seisi kota tak pernah padam.
tegak dan kaku. di jalan-jalan yang tidak
akan selesai, ada alur yang tidak terduga
adalah mata ganas yang tidak akan berhenti
mencabik-cabik, kata per kata hampir mati
ditusuk-tusuk sesosok berparang. sempoyongan
tak berdaya, menatap hari-hari.
hanya sendiri semua berpulang

Tidak ada komentar:
Posting Komentar