selalu saja ada puisi yang memiliki arti, di sini.
bermalam berhari-hari dengan api unggun,
dengan ranting-ranting yang gemeretak terbakar,
dan kunang-kunang sepi, ke dalam separuh bulan
ia menyelinap.
Bagaimana pun, seisi kota tak pernah padam.
tegak dan kaku. di jalan-jalan yang tidak
akan selesai, ada alur yang tidak terduga
adalah mata ganas yang tidak akan berhenti
mencabik-cabik, kata per kata hampir mati
ditusuk-tusuk sesosok berparang. sempoyongan
tak berdaya, menatap hari-hari.
hanya sendiri semua berpulang
Yusuf Nur Rohman
Senin, 11 Mei 2015
Sabtu, 28 Februari 2015
Surat Kepada Pacarku
Dik...
dengan ini kulampirkan segala rasa
hujan suruh gemuruh
darah yang meloncat-loncat
guntur dan jantung bersiasat
Dik...
kusampaikan dengan ini
: ingin kupinang dirimu
sri bombok bersautan, seteru
tubuhnya bermandikan lumpur
lalu semakin keruh bergelora
kututup surat ini dengan maha segala jawaban
kuakhiri dengan rahasia
apabila saatnya nanti
sebut aku bagai madu
menyelimuti atas segala empedu
apabila saatnya nanti
jangan lontarkan kepadaku peluhmu
karena maaf, aku tidak mampu
melangkahi samudra, memutar balik dunia, dan
apabila saatnya nanti segala resah bermetamorfosa
Jumat, 23 Januari 2015
Hinggap Hari Ini
di jalanan, aku tersebar
di sebuah bukit yang kau turuni
terlihat rapi, kutemani matamu berkeliaran
terdapat dingin ditabuh bertalu,
dalam kata malu-malu
di antara rumput aku menepi, agar dicari
adakah yang hinggap hari ini?
kau tak kunjung terjawab,
sejak perjalanan dimulai, sejak gerimis,
sejak basah, sejak pertemuan, sejak imajinasi
bersama senja kuberirama
menutup jendela dunia
nyalakan api, cahaya
memungut sepi, di tepi tersembunyi
kata-kata belum tidur
selamatkan kenangan!
Malang, 23 Januari
di sebuah bukit yang kau turuni
terlihat rapi, kutemani matamu berkeliaran
terdapat dingin ditabuh bertalu,dalam kata malu-malu
di antara rumput aku menepi, agar dicari
adakah yang hinggap hari ini?
kau tak kunjung terjawab,
sejak perjalanan dimulai, sejak gerimis,
sejak basah, sejak pertemuan, sejak imajinasi
bersama senja kuberirama
menutup jendela dunia
nyalakan api, cahaya
memungut sepi, di tepi tersembunyi
kata-kata belum tidur
selamatkan kenangan!
Malang, 23 Januari
Sabtu, 03 Januari 2015
Pemberhentian
harusnya kali ini masih sangat pagiuntuk langkah di haribaanmu
yang mulai hangat
apakah gelisah yang tiba di sini?
di tingkap jatuh
rasanya terasing, rikuk mencari-cari
setegak menara berlaga cerita
tidak bergerak menyisir peristiwa
degub dadaku senandung sepi
genderang luka membelah abadi
harapku, engkau ada bertudung sari-sari samudra
berdesir hari melahap ombak
membawa kian ke pangkal perdu
sepahit rasanya diam berpura-pura
menyisir palung, karang basah tertusuk berdarah
ada pula aku yang siap
di antara segala jiwa yang bergelut senda
supaya hitam di matamu bagiku menengadah
tubuhku diam menemukan cerita berlalu beku!
Selasa, 02 Desember 2014
Menatap Desember
Hujan turun terus menerusmembunuh seisi kota yang lemah
seperti diriku yang takluk, melihat matamu sembab bercampur angkasa
Air mata dan semesta
sebabnya tidak akan lupa ceritanya.
air mata tidak akan memerah senja
namun bening yang kupilih hingga menembus permata sang jingga
kasihku,
selebihnya telah gembelegar terisak tangis
dan debar jantung berpadu sunyi.
sore-sore yang hujan, 2 Desember 2014
Senin, 01 Desember 2014
Selamat Pagi, Hari
Selamat pagi, hari..
kabarkan semangatmu indah menari di antara
embun beribu menggenang
Ia tak mati-mati, besok pasti tiba dan
kembali lenyap di mata
seperti rindu, tidak takut kejauhan di belaiannya
menjadi abadi, menjadi kabut, persembunyian
bagi segala gundah yang meredam
Meski ia tidak selalu gemericik,
namun ia bangunkanku, membelai dingin dan membayang air.
Sebab ia hadir karena aku tiba untuk menjalani.
pagi hari, 2 Desember 2014
kabarkan semangatmu indah menari di antaraembun beribu menggenang
Ia tak mati-mati, besok pasti tiba dan
kembali lenyap di mata
seperti rindu, tidak takut kejauhan di belaiannya
menjadi abadi, menjadi kabut, persembunyian
bagi segala gundah yang meredam
Meski ia tidak selalu gemericik,
namun ia bangunkanku, membelai dingin dan membayang air.
Sebab ia hadir karena aku tiba untuk menjalani.
pagi hari, 2 Desember 2014
Minggu, 16 November 2014
Cinta; malam-malam
separuh malam yang ketlisut,
sebagai gelap ia tak bisa kalah oleh terang
polah tingkah lebih cerdik daripada kesempatan
masih ada bayang-bayang yang gelap tak bisa
ditembus berbagai hilang.
Gelap terang,
saat sedang berjemur diantara lampu-lampu
menyorot hadirnya bulan
Romantika cahaya dengan syarat tak mampu diujarkan
dengan berpakaian panjang kaki-kakinya bersembunyi
malu-malu bermain cinta; sampai ketahuan.
sebagai gelap ia tak bisa kalah oleh terang
polah tingkah lebih cerdik daripada kesempatan
masih ada bayang-bayang yang gelap tak bisa
ditembus berbagai hilang.
Gelap terang,
saat sedang berjemur diantara lampu-lampu
menyorot hadirnya bulan
Romantika cahaya dengan syarat tak mampu diujarkan
dengan berpakaian panjang kaki-kakinya bersembunyi
malu-malu bermain cinta; sampai ketahuan.
Langganan:
Komentar (Atom)
