Senin, 11 Mei 2015

Seratus Elegi

selalu saja ada puisi yang memiliki arti, di sini.
bermalam berhari-hari dengan api unggun,
dengan ranting-ranting yang gemeretak terbakar,
dan kunang-kunang sepi, ke dalam separuh bulan
ia menyelinap.

Bagaimana pun, seisi kota tak pernah padam.
tegak dan kaku. di jalan-jalan yang tidak
akan selesai, ada alur yang tidak terduga
adalah mata ganas yang tidak akan berhenti
mencabik-cabik, kata per kata hampir mati
ditusuk-tusuk sesosok berparang. sempoyongan
tak berdaya, menatap hari-hari.

hanya sendiri semua berpulang

Sabtu, 28 Februari 2015

Surat Kepada Pacarku


Dik...

dengan ini kulampirkan segala rasa
hujan suruh gemuruh
darah yang meloncat-loncat
guntur dan jantung bersiasat

Dik...
kusampaikan dengan ini
: ingin kupinang dirimu
sri bombok bersautan, seteru
tubuhnya bermandikan lumpur
lalu semakin keruh bergelora

kututup surat ini dengan maha segala jawaban
kuakhiri dengan rahasia
apabila saatnya nanti
sebut aku bagai madu
menyelimuti atas segala empedu
apabila saatnya nanti
jangan lontarkan kepadaku peluhmu
karena maaf, aku tidak mampu
melangkahi samudra, memutar balik dunia, dan
apabila saatnya nanti segala resah bermetamorfosa



















Jumat, 23 Januari 2015

Hinggap Hari Ini

di jalanan, aku tersebar

di sebuah bukit yang kau turuni
terlihat rapi, kutemani matamu berkeliaran
terdapat dingin ditabuh bertalu,
dalam kata malu-malu
di antara rumput aku menepi, agar dicari

adakah yang hinggap hari ini?

kau tak kunjung terjawab,
sejak perjalanan dimulai, sejak gerimis,
sejak basah, sejak pertemuan, sejak imajinasi

bersama senja kuberirama
menutup jendela dunia
nyalakan api, cahaya

memungut sepi, di tepi tersembunyi
kata-kata belum tidur
selamatkan kenangan!

Malang, 23 Januari

Sabtu, 03 Januari 2015

Pemberhentian

harusnya kali ini masih sangat pagi
untuk langkah di haribaanmu
yang mulai hangat
apakah gelisah yang tiba di sini?
di tingkap jatuh
rasanya terasing, rikuk mencari-cari
setegak menara berlaga cerita
tidak bergerak menyisir peristiwa

degub dadaku senandung sepi
genderang luka membelah abadi

harapku, engkau ada bertudung sari-sari samudra
berdesir hari melahap ombak
membawa kian ke pangkal perdu
sepahit rasanya diam berpura-pura
menyisir palung, karang basah tertusuk berdarah

ada pula aku yang siap
di antara segala jiwa yang bergelut senda
supaya hitam di matamu bagiku menengadah

tubuhku diam menemukan cerita berlalu beku!

Selasa, 02 Desember 2014

Menatap Desember

Hujan turun terus menerus
membunuh seisi kota yang lemah
seperti diriku yang takluk, melihat matamu sembab bercampur angkasa

Air mata dan semesta
sebabnya tidak akan lupa ceritanya.
air mata tidak akan memerah senja
namun bening yang kupilih hingga menembus permata sang jingga

kasihku,
selebihnya telah gembelegar terisak tangis
dan debar jantung berpadu sunyi.

sore-sore yang hujan, 2 Desember 2014

Senin, 01 Desember 2014

Selamat Pagi, Hari

Selamat pagi, hari..
kabarkan semangatmu indah menari di antara
embun beribu menggenang

Ia tak mati-mati, besok pasti tiba dan
kembali lenyap di mata
seperti rindu, tidak takut kejauhan di belaiannya
menjadi abadi, menjadi kabut, persembunyian
bagi segala gundah yang meredam

Meski ia tidak selalu gemericik,
namun ia bangunkanku, membelai dingin dan membayang air.
Sebab ia hadir karena aku tiba untuk menjalani.

pagi hari, 2 Desember 2014

Minggu, 16 November 2014

Cinta; malam-malam

separuh malam yang ketlisut,
sebagai gelap ia tak bisa kalah oleh terang
polah tingkah lebih cerdik daripada kesempatan
masih ada bayang-bayang yang gelap tak bisa
ditembus berbagai hilang.
Gelap terang,
saat sedang berjemur diantara lampu-lampu
menyorot hadirnya bulan
Romantika cahaya dengan syarat tak mampu diujarkan
dengan berpakaian panjang kaki-kakinya bersembunyi
malu-malu bermain cinta; sampai ketahuan.