Pagi datang membawa
beribu duka pada baginda raja. Tampak embun pekat meleleh disamping jendela
mata turun pelan membasahi dahi sampai pipi menuju hati.
“hamba hendak lapor
paduka,”
“sediakanlah laporan padaku
tanpa kau pernis sehingga kelihatan apa adanya”
Ketika
pagi masih hitam dan sumringah dengan bintang-bintangnya yang bersolek di sorot
lampu jalanan menjadi pusat perhatian jatuhnya air dari hati yang tak bisa
keluar dari mata karena aku adalah seorang raja. Guntur melonglong menggandeng
petir menyambar diri membuat lidahku kram tak mau kegerakkan. Sungguh tugas apik
yang dikumpulkan kepada saya. Debaran jantung menggila membuat dunia menjadi
goncang seraya aku gontai lalu berpegang pada rumput yang sedianya lentur tak
bertulang mengangguk-angguk diterpa angin yang dengan sengaja dikirim guna
meluluh lantakkan perabotan rapi diatas pusat kendali manusia.
Beringsut
aku menjauh dari kursi kebesaran, otak kuputar keras dan kupancing aliranya
dengan suplemen dari asisten yang selalu kudatangkan bilamana terjadi kejadian
semacam ini. Lalu kembali aku membusungkan dada sembari kukernyitkan dahi membentuk
sebuah tulisan yang bisa dibaca “yakin”. Serta merta dengan bekal yang sudah
kukantongi sebelumnya, kudirikan Mercusuar pada tubuh putri tembus menuju
jantung melalui tenggorokan, kujadikan tempat menyimpan biji mulia berlindung
cahaya terang berlapis kedamaian berselimut kasih dan sayang.
Pada
akhirnya aku kembali hidup seiring dengan memudarnya awan hitam menjadi pagi
yang sejuk berteman burung terbang kesana kemari berkicau dan tak lama lagi
matahari lepas dari jeratan dengan segala cahaya yang dimilikinya tembus mata
lalu menjadikan hidupku kembali berwarna.
Surabaya, 28 Mei 2013