Senin, 27 Mei 2013

Raja Yang Sedang Gundah Gulana



Pagi datang membawa beribu duka pada baginda raja. Tampak embun pekat meleleh disamping jendela mata turun pelan membasahi dahi sampai pipi menuju hati.

“hamba hendak lapor paduka,”
          “sediakanlah laporan padaku tanpa kau pernis sehingga kelihatan apa adanya”

Ketika pagi masih hitam dan sumringah dengan bintang-bintangnya yang bersolek di sorot lampu jalanan menjadi pusat perhatian jatuhnya air dari hati yang tak bisa keluar dari mata karena aku adalah seorang raja. Guntur melonglong menggandeng petir menyambar diri membuat lidahku kram tak mau kegerakkan. Sungguh tugas apik yang dikumpulkan kepada saya. Debaran jantung menggila membuat dunia menjadi goncang seraya aku gontai lalu berpegang pada rumput yang sedianya lentur tak bertulang mengangguk-angguk diterpa angin yang dengan sengaja dikirim guna meluluh lantakkan perabotan rapi diatas pusat kendali manusia.

Beringsut aku menjauh dari kursi kebesaran, otak kuputar keras dan kupancing aliranya dengan suplemen dari asisten yang selalu kudatangkan bilamana terjadi kejadian semacam ini. Lalu kembali aku membusungkan dada sembari kukernyitkan dahi membentuk sebuah tulisan yang bisa dibaca “yakin”. Serta merta dengan bekal yang sudah kukantongi sebelumnya, kudirikan Mercusuar pada tubuh putri tembus menuju jantung melalui tenggorokan, kujadikan tempat menyimpan biji mulia berlindung cahaya terang berlapis kedamaian berselimut kasih dan sayang.

Pada akhirnya aku kembali hidup seiring dengan memudarnya awan hitam menjadi pagi yang sejuk berteman burung terbang kesana kemari berkicau dan tak lama lagi matahari lepas dari jeratan dengan segala cahaya yang dimilikinya tembus mata lalu menjadikan hidupku kembali berwarna.

Surabaya, 28 Mei 2013

1 komentar:

  1. perlu diperhatikan lagi penggunaan imbuhan yang benar. Seperti pada paragraf kelima kata 'aliranya'. Seharusnya Alirannya.
    terima kasih

    BalasHapus