Kamis, 23 Januari 2014

Aku suka padamu

Aku pernah suka pada seseorang
saat itu tengah mengenakan kerudung panjang
cokelat muda,
serupa dengan bangku yang kau duduki kini
dari samping aku bisa berjalan menaik dan menurun

terjal dan landainya pipi, hidung serta belahan bibir muda yang kau bawa

tak apa,
kunikmati juga saat dia memberikan senyum padaku lalu
tertawa bersama kawannya
kembali kulirik ketika matamu juga sedang memandang ke arahku
aku sedang memakai jaket abu-abu semasa sma dulu
Udik, tampan juga relatif, tidak sepenuhnya.
tapi itu tadi,

sekarang aku menungguimu
melihatmu diseberang jalan
kerudungmu berkibar,
menikmati pentol yang kau tawarkan padaku sebelum
beranjak dari tempat duduk sebelahku
"sungguh menawan kataku"
lewat suara nyaring klakson jalanan telah kusembunyikan

sudahlah, kuteguk ludahku selanjutnya
bayangmu memudar, menjadi lebih kecil dihadapannya
menua, menjadikan rahangku sulit berkata bahkan
jelas, kulihat pria mirip aku di matanya
begitu senang, pasti
sedekat itu, denganmu

suatu malam aku mimpi
mungkinkah dirimu sadar bahwa aku hadir setiap kau mulai beranjak tidur?
"melihatmu, mereka-reka kejadian seperti benar. Bermain imajinasi.
Memasangkanmu dengan bayangku."

 23 Januari 2014

Rabu, 22 Januari 2014

Kenduri 3

tak lama hujan sudah reda
mendongak di emperan langit, kutemukan sisa-sisa hujan
kusesali, agaknya malam ini aku kembali ingat
tentang bintang kecil-kecil yang kau selimutkan ditubuhku

mendung masih saja tak mau segera menjauh
ingin segera kulihat bayangmu di tengah rembulan
gerhana, saat ketika keabadian menjemputmu

22 Januari 2014

Kenduri 2

barangkali kini kau sedang duduk di belakangku
melihat cucumu bersila memakai sarung dan peci
sedang duniaku telah jauh kau tinggal
sedianya dulu kau ceritakan padaku lebih panjang lagi sebelum aku tidur
"hujan kembali deras, aku simpan tangisku dibaliknya"

Kenduri

aku telah sampai di rumah kembali
melihat kamar-kamar tak berpenghuni tengah asik bercengkrama dengan sepi
dentingan jarum jam pun tak lebih keras darinya, terlampau keras
dihunjam sore mendung yang mengantar do'a lewat gerimis
mengalir satu demi satu, merindu.

22 Januari 2014

Minggu, 19 Januari 2014

Pagi sepi, Kembali

Sehabis kemilau bintang yang terdengar olehku hanyalah
desah meradang, mengurai rambut panjang
menggurat sajak dengan pelan
melayang, dan mengapung
terlihat diantara beribu air mata, tenang
serumu menghilang

20 Januari 2014

Jumat, 17 Januari 2014

Menjadi pagi menjadi jadi

Menjadi pagi,
Menjadi pagi menjadi jadi sepi
Menjadi pagi menjadi jadi kisah ini
Menjadi pagi menjadi rindu tak bertepi
Menjadi pagi mengalun tak pasti
Menjadi pagi,
Menjadi pagi menulis sajak dengan hati hati
Menjadi pagi sejuk meratapi
Menjadi pagi,
Menjadi pagi tanpa matahari
Menjadi pagi dengan syahdu
Menjadi pagi menjadi hadirmu
Menjadi pagi melukis cerita kembali

Denganmu,
Sampai nanti, 

18 Januari 2014

Kamis, 16 Januari 2014

Menjelang Tiada

Kepada sore, aku duduk bersamanya
bersanding bunga kenanga lepaskan
lampion-lampion cinta.
Kepada malam, aku bercerita tentang selama
kita tengah bersama. Bersama pagi aku
diingatkan, ketiadaan beringsut
menjemput dia.

Lalu kepada aku, aku bercerita tentang
sebuah hari yang rambutnya kian memutih,
Menunggu kisah, melihat senyummu
saat aku terjaga.

Mimpi menjemputku saat aku setengah terjaga
Kutebar bunga-bunga; "maaf", kataku

Timang-timang sayang,

17 Januari 2014

Minggu, 12 Januari 2014

Terlalu Menghayati

Tuhan membuat suara-suara guntur yang galau
Kapan harus memberi aba-aba kepada
hujan untuk segera merayu
Menjadikan bidadari-bidaadari sibuk
bercerita saat aku tidur

Kerasnya menghunjamku
Meratapi tepian sepi

Siang belum selesai kini
Dibuai rimbunnya sinar mentari
Meninggi, tepat di bayangmu
Menari-nari
Terlalu terang untuk kutemui
Jalanku pun mulai rabun untuk mengantarku pulang

Beringsut kuambil langkah seribu
Meraba, mencari-cari
Benar atau salah adalah jawaban

Ketidak pastian telah menyita waktuku

Bahkan aku mulai dijauhi dunia siang
Sinarnya makin hina ketika harus menghadapku
Semakin menghitam, semakin rabun

Aku akan pulang,
Bangun, lalu mandi
dan melupa tentang kejadiaan saat
terbuai mimpi

12 Januari 2014

Sabtu, 11 Januari 2014

Reflektif

Aku munafik
Terlampau dalam aku selalu bersembunyi dalam sajakku
Mengeja aksara tanpa kata atau sebaliknya ataupun dua-duanya

Aku ling lung

12 Januari 2014

Sendiri di Warung kopi

Tak apalah,
Waktuku tak lagi lama sayang

Aku buram,
Terlalu nanar bilamana kau harus jatuh di peluknya

Tidak serta merta membalik kata
Yang semakin yakin dengan kenyataan
Gerimis mengundang,
Membasahi cerutu penjual kopi
Lalu mengernyitkan dahi

Basah lidah,
Dicocol sambal kemangi
Pedas wangi
Sedikit panas bibirku kini

12 Januari 2014

Jumat, 10 Januari 2014

Rencana Pagi-Pagi

Malam tengah meranggas di mataku
Sisa hujan di celana dan bajuku masih terasa basah di setiap bagiannya
Begitu juga diriku
Menjelang mimpi baru
Mengarang cerita asik mengenai dirimu

Melalui pagi-pagi lalu
adalah keniscayaan bahwa aku tengah mempertanggung jawabkan hidupku
Melukiskan sosokmu merupakan satu hobi baru
Merindumu adalah candu

Teruntuk malam yang baru saja hilang
Aku telah melalui setiap waktumu
Mempersiapkan jalanku pagi ini
Memoles setiapnya
Menjadikan itu nyata, lagi

Sebuah malam yang terlampau sederhana
Sengaja terlambat tidur
Kutuliskan cerita untuk pagi nanti
Maka bersiaplah je

Hidup telah setuju bahwa pagi ini datang kembali

---Satu pertanyaan dan jawaban yang cantik---

Jika pagi ini adalah saatnya, maka akan jadi cerita selanjutnya

Jika pagi ini adalah saatnya, maka mimpiku telah menjadi nyata

11 Januari 2014
01:16 wib

Kamis, 09 Januari 2014

Perjalananku

Malam makin menjadi
Bulan sudah disamarkan
Bintang seakan tengah dihilangkan

Belum kuakhiri jalanku hari ini
Kudaki pagi
Kutulis mentari

Akhirnya aku sampai

Titik-titik membingungkan,

Sebuah malam telah intim kupandang
Kupacu kudaku semakin kencang
Menembus alam bawah sadarku
Setengah diriku kularikan di hadapanmu

Mesra kusapa pesona kedipan matamu
ataupun bentuk bibirmu dan alunan desahmu
Lalu segerakan ikut aku
Aku suka bermain gali-menggali


"kembali aku menuliskan derai hujan di tangisku. Rambutku basah memesona. Bersenandung. Mengajak menari."

Berhari kuberkelana
Kutemui perempuaan berambut tebal
Berhari kuamati
Kutemukan matanya bertanya-tanya
Kucari Jawabnya
Ternyata sebuah keraguan

Aku mulai lelah
Dibelenggu kuatmu
Dibuai maluku

28 November 2013

Catatan Sebelum tidur

Mataku sayu
Mulai ngantuk
Tapi aku galau
Kata mama tidak boleh tidur pagi

7-1-2014
00.30 wib