Selasa, 10 Desember 2013

Bom Waktu

Suatu malam aku telah sampai di
namamu
Kutapaki tiap suku kata
Menempuh titik indah di awal namamu
Melewati tiap lekukan huruf di bibirmu
Berpadu lembut mengukir bayangmu

Suatu malam aku telah sampai di
bayangmu
Bisa kulihat biasmu di tiap cahaya yang
keluar dari mataku
Kulihat kita saling berlarian
Bermain bayang-bayang

"Sudah lama bayangan kita menari
bersama. Sering kupaandangi cakrawala
dibalik bayang dirimu. Butuh waktu
lebih dari sekadar berhadapan dengan
dirimu yang nyata."

Telah lama kutunggu waktu-waktu lalu

Hingga aku telah sampai di wajahmu
Jari-jariku meruntuh
Kusentil rindu-rindu lalu,
Mulutku berontak
Melumat habis sisa rindu di bibirmu,

Jemu aku berlalu
Hingga aku telah sampai di diriku
Memimpikan diriku yang masih
terombang-ambing di air matamu

Aku tersesat
Telah keliru

Surabaya, 10 Desember 2013

Jumat, 06 Desember 2013

BUAT KITA

Tak sulitlah bila ingin mendapati
simpati dari alam
Ceritakan saja tentangmu
Lalu awan menitihkan air matanya
membasahi kita

4 Desember 2013

Rabu, 04 Desember 2013

TERLEPAS DARI APA ITU!



Sungguh sayang, masih menyembul
kata-kata yang tidak jarang pula bukan
keluar dari mulutmu. Satu atau bahkan
berkali kata yang terucap hanya
mengenai ilmu kebatinan.

“terima atau tidak, ini bukanlah
sekadar tentang kata menyerupai isi
hati. Sedikit saja, aku telah berguru
ilmu batin sedari aku adalah mimpi”

Seperti sediakala ketika aku
dikehendaki menyerukan cinta
dihadapanmu purnama, sudah kudapati
diriku diarak keliling dunia kata
kurangi gairah haus akan puisi yang
rasanya hanya diketahui pemilik dan 
puisi sendiri
lalu harus memakan deskripsi yang
diterangkan oleh ahli raut muka

“aku harus memaknai lebih dari
dalamnya sakit ternyata, tak cukup
kalau hanya dia yang melangkah penuh
suka tanpa kenal duka sebagai
pasangan darinya”

Terlepas dari apa itu sudah terlanjur
kamu benar

Sabtu, 02 November 2013

Serambi Rindu

Purnama meninggi hidung dan jidatmu
bawah etalase pom bensin
kopi panas, emperan terpaku
bersila menyudutkan bayangmu
kukangkangkan jari-jari
menapaki bibir sampai di pipi
menelanjangi mata sampai di jantung
memeluk rindu sampai bertemu..

Jumat, 01 November 2013

Titik-Titik Membingungkan

Ning,
Tampaklah keningmu bersembunyi
Teruntai rumusan-rumusan kecil
melandasi ketidak pastian ini

Ning,
Baumu wangi hahaha
Aku suka menjajaki bekas tapak kakimu
diwajahku
tertera sepoi angin
mengombang-ambingkan maksud
senyummu di otakku
Teruntai kata membakar dingin kota,

Ning,
Sebuah lorong sudah berkata
Mengerlingkan cahaya
Berpendar
Suaraku mengadu
Mengasap hingga ke bulan

Ning,
Jantungku berlarian
Hentakannya begitu kentara di
goyangan pipimu menyudutkan alisku
Ditambah anggur semanis senyummu
Aku terbelalak disaksikan bintang

Ning,
Sekian
Nampak indah terpatri dihidupku

Kediri, 1 November 2013

Sudah Pagi

Bersembul cahaya berawan
Dalam lentera-lentera agung di puncak hidungnya
Mata tajam menyibak dan
Kubertemu cakrawala dalam senyummu

Tangan diayun sembari anak kecil
berlari memegang lolipop bumi sore hari

Senja di pelupuk mata
Keringat memeluk dingin suryakancana
Embun menggelinding menuruni sajak
yang sengaja kutempel di kelopak bunga kamboja

Aku bangun,

Kudapatkan lelaki meronta berkecipak
lautan air mata dalam

241013

Minggu, 06 Oktober 2013

Kisah Hujan di Perjalanan

Langit-langit menghitam bukan malam

Terduduk diatas awan kota



Angin sore lalu lalang tak kenal diam

senja datang berbalut mendung



Kutoleh genangan hujan yang kuinjak, kudapati

2 manusia yang ketika salah satunya takut untuk terpeleset dari tempat duduknya

lantas mereka saling bergandeng



Saling colek

Saling senyum



Bulir-bulir air dari langit berdentum mengeja waktu

yang sudah dijadikan album kenangan.



Sampai kapan kita?

Tunggu dulu! sampaikan cintaku

Kepada sore aku duduk bersamanya
bersanding bunga kenanga
lepaskan lampion-lampion cinta.
Kepada malam aku bercerita tentang mimpi selama kita masih bersama.
Bersama pagi aku diingatkan kalau beliau sudah tiada!

Lalu,
kepada aku, aku bercerita sewaktu tiba hari disaat aku menebar bunga
selanjutnya, aku bercerita tentang sewaktu bulir air mata tanpa sengaja menetes begitu saja
tidak lupa pula aku bercerita bahwa kemarin dari masjid tentang sebuah kata "innalillahi wainna ilaihi rojiun"

Timang-timang bulanku sayang..
Jangan tidur dulu sebelum kau sampaikan cuplikan cerita cinta padanya yang
sudah tiada.

Rabu, 11 September 2013

Aku Bercerita...???

Kepada sore,
Aku duduk bersamanya bersanding bunga kenanga
Lepaskan lampion-lampion cinta,
Kepada malam,
Aku bercerita tentang
Mimpi selama kita masih bersama,
Bersama pagi aku diingatkan kalau beliau sudah tiada!

Lalu kepada aku,
Aku bercerita tentang
Sebuah hari ketika aku  menebar bunga setelah mimpi
dan sesudah ditinggal mati.

Rabu, 14 Agustus 2013

UNTUK IBUK!!!


Dunia ini sudah renta buk!
Dunia sempat mengajak aku mengendap-endap dalam gemerlap siang bahkan malam. Ketika aku sampai di dalam lubang semut ia bicara padaku. “nak, aku nitip kado buat ibumu” (beringsut menjauh). Mataku belum rabun, masih jelas tulisan yang menyerupai cekeremes alias tidak beraturan tersebut terbcaa rapi olehku. “KADO ULANG TAHUNMU”. Sontak semua pekerja kupaksa memainkan belahan otak bagian manapun dalam tengkorakku. “Hai DUNIA” lantang suaraku menyusul lancang.  “begitu indah bila kau kusebut GOBLOK”. Saking kerasnya suaraku, setiap bagian dari suaraku menelusup satu-satu menabuh gendang telinga ibukku. “yus, opo maksudmu le??”. Kujawab atau tidak??. Aku sadar, tapi jelas terasa bahwasannya dunia lebih berha menguasai diriku kala itu. Ragaku dipakai semena-mena. Tanganku bergerak sendirinya menyerahkan kado, mulut menyebut pemberi.
Sore mengudara, melambai penuh siasat. Selesai sudah panggilan surga kutemui yang kala itu bertepatan dengan indah bermekaran sinar bintang. Aku pulang.
Kini aku sudah berada di depan daun pintu warna kuning gelap bagian samping rumah. Erangan apa ini??. Kunikmati sebentar dengan mengernyitkan dahi, kulit dahi mengkerut bak kuperas sampai keringat dingin menetes pelan membasahi saluran nafas hingga sedu sesak dalam dada. Berangsur mulai tak beraturan intensitas denyut jantungku. Berkecamuk segala bentuk buah fikiran negatif meracuni setiap hal dalam tubuhku.
Sungguh kado yang mengesankan bagiku meskipun pada dasarnya tidak diperuntukkan padaku. Begitupun terjadi pada setiap tetangga yang berdatangan melihat kado penuh luka didalamnya.
Sudahlah buk, ini memang sudah waktunya. Aku tahu pasti terlalu sia-sia bila harus menyeka air matamu sekarang, karena masih banyak air mata-air mata lain dari lensa mata dengan ketidak tegaan. Memang dunia sudah renta.

Sabtu, 08 Juni 2013

Aku Adalah Sempurna



Aku adalah sempurna
Dengan hidung kuendus kotoran tikus
Dengan tangan halus nan lembut karena lemas kukorek tempat sampah
Jantung dipompa teramat cepat

Aku adalah sempurna
Bahkan aku adalah penyempurna
Penyempurna tahta bagi penguasa
Bagaimana tidak ?
uangku saja dimakan mereka

Hahahaha,
aku tertawa terpingkal menahan sedu sesak dalam dada

Selasa, 28 Mei 2013

Kutodongkan Pisau Pada Harapan

Malam menghitam 
bersanding tatapan temaram mengapung setengah badan 
terjerembab pada dunia tugu pahlawan.

Lantas tak tinggal diam, 
menyingsing fajar 
kuletakkan manis rajutan harapan yang cocok digunakan pada binatang 
yang tidak sengaja telah ada sejak aku terlahir di dunia. 
cacing perut

Setidak-tidaknya masih ada cahaya, 
dan masih kutodongkan pisau pada harapan 
sehingga benar aku kembali pada jalan pulang tanpa kedinginan dan kelaparan. 

Senin, 27 Mei 2013

Raja Yang Sedang Gundah Gulana



Pagi datang membawa beribu duka pada baginda raja. Tampak embun pekat meleleh disamping jendela mata turun pelan membasahi dahi sampai pipi menuju hati.

“hamba hendak lapor paduka,”
          “sediakanlah laporan padaku tanpa kau pernis sehingga kelihatan apa adanya”

Ketika pagi masih hitam dan sumringah dengan bintang-bintangnya yang bersolek di sorot lampu jalanan menjadi pusat perhatian jatuhnya air dari hati yang tak bisa keluar dari mata karena aku adalah seorang raja. Guntur melonglong menggandeng petir menyambar diri membuat lidahku kram tak mau kegerakkan. Sungguh tugas apik yang dikumpulkan kepada saya. Debaran jantung menggila membuat dunia menjadi goncang seraya aku gontai lalu berpegang pada rumput yang sedianya lentur tak bertulang mengangguk-angguk diterpa angin yang dengan sengaja dikirim guna meluluh lantakkan perabotan rapi diatas pusat kendali manusia.

Beringsut aku menjauh dari kursi kebesaran, otak kuputar keras dan kupancing aliranya dengan suplemen dari asisten yang selalu kudatangkan bilamana terjadi kejadian semacam ini. Lalu kembali aku membusungkan dada sembari kukernyitkan dahi membentuk sebuah tulisan yang bisa dibaca “yakin”. Serta merta dengan bekal yang sudah kukantongi sebelumnya, kudirikan Mercusuar pada tubuh putri tembus menuju jantung melalui tenggorokan, kujadikan tempat menyimpan biji mulia berlindung cahaya terang berlapis kedamaian berselimut kasih dan sayang.

Pada akhirnya aku kembali hidup seiring dengan memudarnya awan hitam menjadi pagi yang sejuk berteman burung terbang kesana kemari berkicau dan tak lama lagi matahari lepas dari jeratan dengan segala cahaya yang dimilikinya tembus mata lalu menjadikan hidupku kembali berwarna.

Surabaya, 28 Mei 2013