Selasa, 02 Desember 2014

Menatap Desember

Hujan turun terus menerus
membunuh seisi kota yang lemah
seperti diriku yang takluk, melihat matamu sembab bercampur angkasa

Air mata dan semesta
sebabnya tidak akan lupa ceritanya.
air mata tidak akan memerah senja
namun bening yang kupilih hingga menembus permata sang jingga

kasihku,
selebihnya telah gembelegar terisak tangis
dan debar jantung berpadu sunyi.

sore-sore yang hujan, 2 Desember 2014

Senin, 01 Desember 2014

Selamat Pagi, Hari

Selamat pagi, hari..
kabarkan semangatmu indah menari di antara
embun beribu menggenang

Ia tak mati-mati, besok pasti tiba dan
kembali lenyap di mata
seperti rindu, tidak takut kejauhan di belaiannya
menjadi abadi, menjadi kabut, persembunyian
bagi segala gundah yang meredam

Meski ia tidak selalu gemericik,
namun ia bangunkanku, membelai dingin dan membayang air.
Sebab ia hadir karena aku tiba untuk menjalani.

pagi hari, 2 Desember 2014

Minggu, 16 November 2014

Cinta; malam-malam

separuh malam yang ketlisut,
sebagai gelap ia tak bisa kalah oleh terang
polah tingkah lebih cerdik daripada kesempatan
masih ada bayang-bayang yang gelap tak bisa
ditembus berbagai hilang.
Gelap terang,
saat sedang berjemur diantara lampu-lampu
menyorot hadirnya bulan
Romantika cahaya dengan syarat tak mampu diujarkan
dengan berpakaian panjang kaki-kakinya bersembunyi
malu-malu bermain cinta; sampai ketahuan.

Rabu, 24 September 2014

Ngomong Sendiri

Sadar,
Waktu tak bisa ingkar
mengoyak siang dan malam agar bangun tepat waktu
siang yang berkepribadian pekerja keras
sedang malam yang mengabdikan bagi yang
tubugnya pegal-pegal

Beginilah kombinasi ajaib
Hari-hari yang tak pernah sepi pengunjung
Mati satu, yang tiga baru saja procot
satu hari libur, tiga hari bakal ngaplo

sampai suatu malam aku ingat
juga malam hari yang riuh seperti ini
berjalan pada trotoar yang sepi
apalagi mataku tidak bening lagi
membaca raut mukaku, mataku sudah rabun
bahuku tak sekuat herkules,
tapi sengaja kuberi beban lagi

Bagaimana tidak?
lalu aku harus makan apa?
Sudahlah, waktuku pulang
kepalaku sudah nyut-nyutan

25 September 2014

Rabu, 10 September 2014

Menyeru Malam


Jalan-jalan telah bersinar, berbiaskan bintang
di sorot lampu berjajar-jajar.
Semakin malam maka mataku terasingkan
deburan mendayu
kecipaknya merindu,
adalah sorot matamu di senjakala
menyingsing di celah berawan
memerah pada dinding tak berbatas luas

Danau,
Mengharu biru, mengadu

10 September 2014

Jumat, 05 September 2014

Lanskap Waktu

Kami wujudnya waktu, berdiskusi cara
menunggu, agar tidak tersesat di percabangan
jalan di sana. Melaju di antara sekujur lelah,
membelai pelipis yang licin tipis agar
terpeleset di bahtera. Karena matamu
kupandang tak berhulu.

Seolah, aku sudah berdetik. Telah tentukan
siang, melambai malam dan berkokok jantan
menembus fajar. Pekikku supaya sambung ke
halaman depan.

Aku tak bisa ingkar terhadap kenangan,
supaya kekal, supaya berhenti di keabadian.

Minggu, 31 Agustus 2014

RUTE

Pergantian bulan dan siang selalu menyisakan
tempat bagi senja dan fajar sebagai tanda
kemenangan. Seelok umpama langkahmu yang
ditelan ketiadaan. Dirimu yang telah dilesapkan
hilang. Tatapan kuat yang sering beradu
selalu berbekas di dinding-dinding malam.

Aku tidur,
selalu saja ada bayang-bayang yang
tertinggal. Di mataku, itu sebuah cahaya tanpa
ruang. Sorotnya tajam, binarnya hangat tanpa
sasaran. Desingan peluru yang bingung atau
mata pisau yang tidak tahu harus membelah.

Aku sendiri,
selalu saja ada tawamu yang habis ditelan
kelokan. Tumbuh  bersama semai rindu pada
batas-batas waktu, menunggu.

"kepada apa aku harus merasa kehilangan?
seperti hadirmu di jalan"

10 Agustus 2014

Kamis, 28 Agustus 2014

Sebelum di Kereta

Kita duduk di sini setenang keabadian.
Bercengkrama dengan deru meninggalkan kota tua.
Dari besi tampak rel bersilang di sana
menderit damai
menyeret sunyi
nestapa dunia

Karena kami adalah waktu,
melihat kereta berlalu itu sudah.

"perlintasan kami kekal"

Je, 29 Agustus 2014

Jumat, 18 Juli 2014

menggugah rasa

Hangat, harapan yang sebentar lagi
tak hanya janji dan berhamburan memenuhi
ruang halusinasi.
Terbangnya pasti, membawa sebilah
bukti.

Berlindunglah dibalikku dari kejaran
yang lebih kekal, waktu.
Ia mimpi buruk bagimu pesolek.

Kubawakan segelas susu mocca, disitu
imajinasi kental dan manis.
Menetaskan yang hagat, agar tumbuh
besar di tubuhku biarpun malam saja.
Berdecak-decak riuh, angin mengelupas
dari kulit di sekujur yang dinginnya begitu kuasa.

Di dalam rasa,
Bermunajah setiap kisah

Adalah aku yang menjadi cerita.
Berselubung kasih, menancap dalam.
Pelukmu sejadinya abadi.

Malang, 19 Juli 2014

Minggu, 13 Juli 2014

tentang ruh sebuah kisah

Pada suatu malam yang belum terlalu tua
kulihat matamu lebar isyarat
rembulan yang bulat sempurna yang kedipnya
selalu sendu.

Kini sudah pecah. Meniadakan waktu
beranak pinak menjadi ilustrasi. Desau-
desau tawa mendominasi, sekilas
tentang masa lalu tumbuh cepat, melebihi imajinasi,
kasih yang suci melingkari. Cukup dengan
bertemu, saling tatap; melihat
pungkasan jalan yang tertinggal; memasuki lorong
dan membuka kembali pintu usang, kenangan.

Mungkin di atas merupakan sejenis
upacara penyambutan. Menjelang masa depan,
memberi semangat kesetiakawanan, dan juga
sebagai ruh sebuah sajak yang palungnya teduh
berkanopi rindu.

Salam,

Sabtu, 12 Juli 2014

sebuah malam yang entah

Tiada abadi yang sepi,
sendirinya yang riuh, sebab angin telah mendesau memainkan peranannya sebagai dingin, pelipur saat kupergi ke rumah dan kutemui sakit hati. 

Malam semakin berapi-api, semangatnya yang memberi, hidup yang harapannya mengais setiap damai dan tak pernah mati di setiap kisah, di jejakmu yang bisu; takkan rela mendapatimu pergi. "Tidak ada menyerah", kataku meskipun ia telah tau, aku sudah dalam menjadi mimpi, sedang gula-gula; mencoba cair untuk hidup, menjadi alir yang sendunya manis seperti pandangmu yang madu. 

Sedang, kenyataan yang giginya taring siap mengoyak waktu menjadi bercecer, menjadi kenang. kulihat mereka berjalan mendekat dan segalanya jadi saksi. Berlari menjadi doa.


12 Juli 2014

Selasa, 17 Juni 2014

Pesanku Hilang


Kukabarkan, tempatku kini sedang
gerimis, merayap basah di jalanan yang
tidak membawa kita pergi. Sedang
kuterima, kepada bisikku kering yang
lelah.

Kurasa kamu sudah lelap, kuselimutkan
gelisah sunyi dan kata-kata.
Pada batas waktu yang belum
ditentukan, kunanti jawaban
harapku redam, memelukmu mendalam.

17 Juni 2014

Rabu, 11 Juni 2014

Ayo, jalan-jalan!

Hujan berandai
mengerling pada doa
berlutut pada jalanan berdebu
menyapu waktu, 
masa lalu jadi dingin
basah kuyup, bayangan yang rindu
cukup! mungkin sedang menungguimu
jalan-jalan!


11 Juni 2014

Selasa, 10 Juni 2014

Sepertiga bulan, hujan


Pagi merintih
Rindumu yang tak dingin
Mengutuk diriku yang masih ngantuk

Hujan,
Gelisahmu yang tak padam
Menyeretku basah
Ke dasar harapan

Hisap, telan,
Sebanding dirimu hilang
Perempuanku yang baru saja lupa ingatan
Di pucuk pelangi menghilang!

Burung-burung bersautan
Menandai hari
Nyala kehidupan
Dan diriku melayang pada temaram

Sampai, selalu pulang
Ke batas peraduan!

10  Juni 2014

Jumat, 16 Mei 2014

Dua batang pelangi


dua batang pelangi,
sebab hujan yang rinai begitu basah pada pagi ini.
menimbun bumi. setiap bulir menggelinding bebas menerpa dinding berbatu. begitu syahdu, melihat ekpresi langit yang masih gerimis.

17 Mei 2014

Minggu, 11 Mei 2014

Je


Je

Pada pagi yang hampir tiba,
di penghujung malam yang sendiri dan takut kegelapan.
Relakah kurengkuh segala siang?
Bersamamu gerangan!

Seru yang tak bisa hilang
pada rembulan yang ranum
dengan bintang yang masih kecil dan tampak bersinar

Begitu,
Bila aku bermimpi, mungkin aku tak bisa kembali
Maka, bersiaplah untuk tetap menapaki
Lagi dan lagi

12 Mei 2014

Selasa, 08 April 2014

puisi dengan suaminya

Puisi yang cantik
kulihat sedang asyik dengan suaminya
"sudah malam sayang"
dikibarkan daunnya menguning
terlanjur tua,
beberapa tidak tumbuh lagi


1 April 2014

Selasa, 01 April 2014

Senin, 31 Maret 2014

Masa lalu


Sudahlah, aku sudah jarang merindumu
juga jarang berduaan ngobrol ngalor ngidul
memangku sendu
dulu, kuseka angin di bahumu
kutepuk beberapa kali lalu tidur
memelukmu
setiap pagi kau siratkan embun di
tubuhku, menjadi dingin dan membeku
kucek-kucek mata dan seberkas rembulan
di matamu tengah melongok
membangunkanku

Pada suatu kisah,
kita terpisah,
atau, kau pisahkan diri

Jadi, segeralah pergi
aku akan ganti baju
intim dengan kekasihku

Minggu, 30 Maret 2014

Selasa, 11 Maret 2014

Teka-teki sore



Diam-diam benar-benar menghanyutkan
Senyum dan tawa benar-benar
Menjatuhkan
Menjatuhkanku dari pucuk tertinggi di
Bibirmu sampai di tempat yang kau
Sebut yaitu injakan sepatu
Terhujani perihmu

Menangis tanpaku adalah menang
Jalan terbaik telah pantas disebut
Sempurna
Karena saling menutupi dikenal dengan
Jurus jitu dan sok tau

Berbicaralah dengan merdu
“aku tidak menginginkanmu”
Bukankah ini disebut lebih pantas?
Saling jaga hati adalah ilusi
Tak lebih mulia dari telepati

27 Februari 2014

Kamis, 23 Januari 2014

Aku suka padamu

Aku pernah suka pada seseorang
saat itu tengah mengenakan kerudung panjang
cokelat muda,
serupa dengan bangku yang kau duduki kini
dari samping aku bisa berjalan menaik dan menurun

terjal dan landainya pipi, hidung serta belahan bibir muda yang kau bawa

tak apa,
kunikmati juga saat dia memberikan senyum padaku lalu
tertawa bersama kawannya
kembali kulirik ketika matamu juga sedang memandang ke arahku
aku sedang memakai jaket abu-abu semasa sma dulu
Udik, tampan juga relatif, tidak sepenuhnya.
tapi itu tadi,

sekarang aku menungguimu
melihatmu diseberang jalan
kerudungmu berkibar,
menikmati pentol yang kau tawarkan padaku sebelum
beranjak dari tempat duduk sebelahku
"sungguh menawan kataku"
lewat suara nyaring klakson jalanan telah kusembunyikan

sudahlah, kuteguk ludahku selanjutnya
bayangmu memudar, menjadi lebih kecil dihadapannya
menua, menjadikan rahangku sulit berkata bahkan
jelas, kulihat pria mirip aku di matanya
begitu senang, pasti
sedekat itu, denganmu

suatu malam aku mimpi
mungkinkah dirimu sadar bahwa aku hadir setiap kau mulai beranjak tidur?
"melihatmu, mereka-reka kejadian seperti benar. Bermain imajinasi.
Memasangkanmu dengan bayangku."

 23 Januari 2014

Rabu, 22 Januari 2014

Kenduri 3

tak lama hujan sudah reda
mendongak di emperan langit, kutemukan sisa-sisa hujan
kusesali, agaknya malam ini aku kembali ingat
tentang bintang kecil-kecil yang kau selimutkan ditubuhku

mendung masih saja tak mau segera menjauh
ingin segera kulihat bayangmu di tengah rembulan
gerhana, saat ketika keabadian menjemputmu

22 Januari 2014

Kenduri 2

barangkali kini kau sedang duduk di belakangku
melihat cucumu bersila memakai sarung dan peci
sedang duniaku telah jauh kau tinggal
sedianya dulu kau ceritakan padaku lebih panjang lagi sebelum aku tidur
"hujan kembali deras, aku simpan tangisku dibaliknya"

Kenduri

aku telah sampai di rumah kembali
melihat kamar-kamar tak berpenghuni tengah asik bercengkrama dengan sepi
dentingan jarum jam pun tak lebih keras darinya, terlampau keras
dihunjam sore mendung yang mengantar do'a lewat gerimis
mengalir satu demi satu, merindu.

22 Januari 2014

Minggu, 19 Januari 2014

Pagi sepi, Kembali

Sehabis kemilau bintang yang terdengar olehku hanyalah
desah meradang, mengurai rambut panjang
menggurat sajak dengan pelan
melayang, dan mengapung
terlihat diantara beribu air mata, tenang
serumu menghilang

20 Januari 2014

Jumat, 17 Januari 2014

Menjadi pagi menjadi jadi

Menjadi pagi,
Menjadi pagi menjadi jadi sepi
Menjadi pagi menjadi jadi kisah ini
Menjadi pagi menjadi rindu tak bertepi
Menjadi pagi mengalun tak pasti
Menjadi pagi,
Menjadi pagi menulis sajak dengan hati hati
Menjadi pagi sejuk meratapi
Menjadi pagi,
Menjadi pagi tanpa matahari
Menjadi pagi dengan syahdu
Menjadi pagi menjadi hadirmu
Menjadi pagi melukis cerita kembali

Denganmu,
Sampai nanti, 

18 Januari 2014

Kamis, 16 Januari 2014

Menjelang Tiada

Kepada sore, aku duduk bersamanya
bersanding bunga kenanga lepaskan
lampion-lampion cinta.
Kepada malam, aku bercerita tentang selama
kita tengah bersama. Bersama pagi aku
diingatkan, ketiadaan beringsut
menjemput dia.

Lalu kepada aku, aku bercerita tentang
sebuah hari yang rambutnya kian memutih,
Menunggu kisah, melihat senyummu
saat aku terjaga.

Mimpi menjemputku saat aku setengah terjaga
Kutebar bunga-bunga; "maaf", kataku

Timang-timang sayang,

17 Januari 2014

Minggu, 12 Januari 2014

Terlalu Menghayati

Tuhan membuat suara-suara guntur yang galau
Kapan harus memberi aba-aba kepada
hujan untuk segera merayu
Menjadikan bidadari-bidaadari sibuk
bercerita saat aku tidur

Kerasnya menghunjamku
Meratapi tepian sepi

Siang belum selesai kini
Dibuai rimbunnya sinar mentari
Meninggi, tepat di bayangmu
Menari-nari
Terlalu terang untuk kutemui
Jalanku pun mulai rabun untuk mengantarku pulang

Beringsut kuambil langkah seribu
Meraba, mencari-cari
Benar atau salah adalah jawaban

Ketidak pastian telah menyita waktuku

Bahkan aku mulai dijauhi dunia siang
Sinarnya makin hina ketika harus menghadapku
Semakin menghitam, semakin rabun

Aku akan pulang,
Bangun, lalu mandi
dan melupa tentang kejadiaan saat
terbuai mimpi

12 Januari 2014

Sabtu, 11 Januari 2014

Reflektif

Aku munafik
Terlampau dalam aku selalu bersembunyi dalam sajakku
Mengeja aksara tanpa kata atau sebaliknya ataupun dua-duanya

Aku ling lung

12 Januari 2014

Sendiri di Warung kopi

Tak apalah,
Waktuku tak lagi lama sayang

Aku buram,
Terlalu nanar bilamana kau harus jatuh di peluknya

Tidak serta merta membalik kata
Yang semakin yakin dengan kenyataan
Gerimis mengundang,
Membasahi cerutu penjual kopi
Lalu mengernyitkan dahi

Basah lidah,
Dicocol sambal kemangi
Pedas wangi
Sedikit panas bibirku kini

12 Januari 2014

Jumat, 10 Januari 2014

Rencana Pagi-Pagi

Malam tengah meranggas di mataku
Sisa hujan di celana dan bajuku masih terasa basah di setiap bagiannya
Begitu juga diriku
Menjelang mimpi baru
Mengarang cerita asik mengenai dirimu

Melalui pagi-pagi lalu
adalah keniscayaan bahwa aku tengah mempertanggung jawabkan hidupku
Melukiskan sosokmu merupakan satu hobi baru
Merindumu adalah candu

Teruntuk malam yang baru saja hilang
Aku telah melalui setiap waktumu
Mempersiapkan jalanku pagi ini
Memoles setiapnya
Menjadikan itu nyata, lagi

Sebuah malam yang terlampau sederhana
Sengaja terlambat tidur
Kutuliskan cerita untuk pagi nanti
Maka bersiaplah je

Hidup telah setuju bahwa pagi ini datang kembali

---Satu pertanyaan dan jawaban yang cantik---

Jika pagi ini adalah saatnya, maka akan jadi cerita selanjutnya

Jika pagi ini adalah saatnya, maka mimpiku telah menjadi nyata

11 Januari 2014
01:16 wib

Kamis, 09 Januari 2014

Perjalananku

Malam makin menjadi
Bulan sudah disamarkan
Bintang seakan tengah dihilangkan

Belum kuakhiri jalanku hari ini
Kudaki pagi
Kutulis mentari

Akhirnya aku sampai

Titik-titik membingungkan,

Sebuah malam telah intim kupandang
Kupacu kudaku semakin kencang
Menembus alam bawah sadarku
Setengah diriku kularikan di hadapanmu

Mesra kusapa pesona kedipan matamu
ataupun bentuk bibirmu dan alunan desahmu
Lalu segerakan ikut aku
Aku suka bermain gali-menggali


"kembali aku menuliskan derai hujan di tangisku. Rambutku basah memesona. Bersenandung. Mengajak menari."

Berhari kuberkelana
Kutemui perempuaan berambut tebal
Berhari kuamati
Kutemukan matanya bertanya-tanya
Kucari Jawabnya
Ternyata sebuah keraguan

Aku mulai lelah
Dibelenggu kuatmu
Dibuai maluku

28 November 2013

Catatan Sebelum tidur

Mataku sayu
Mulai ngantuk
Tapi aku galau
Kata mama tidak boleh tidur pagi

7-1-2014
00.30 wib